Listrik sangat dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat, oleh karena merupakan kebutuhan dasar tentunya hrs dikelola dengan perencanaan yang matang didalam mempertahankan ketersedianya. pada tahun 2006 PLN Tarakan yang dikelola secara otonom dgn tarif termahal kedua setelah Batam sudah merencanakanya atas rekomendasi RUPS untuk membangun PLTU di Tarakan, namun yang terjadi dan mengejutkan adalah perpindahan Investasi Yg dilakukan oleh tangan yang tak nampak ke Jayapura dan Bintan, langkah yang cerobah dan merugikan masyarakat Tarakan ini mengakibatkan terjadinya krisis ketersedaian listrik akhir-akhir ini. dan solusi yang ditawarkan oleh pemerintah Kota tarakan dan PT. PLN Tarakan adalah dengan menaikan tarif dasar Listrik. sebuah tindakan yang ke kanak-kanakan yang menimpa masyarakat adalah diibratkan sudah jatuh tertimpa Tangga pula. sebagai masyarakat Tarakan kita wajib bersatu padu menahan kebijakan yang tidak populer dan sangat merugikan ini secara bersama, sehingga kita tidak dijadikan sapi perahan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dibanding Amrika Serikat jumlah enterpreneur kita jauh dibawah mereka 0.18 % enterpreneur/wiraswastawan kita  berbanding dengan 11,5 % utk Amerika dan 7,2 %  Singapore dari jumlah penduduk masing-masing negara, bila  di Tarakan penduduknya 176.000. orang maka jumlah enterpreneur/wiraswastawan jika kita ambil indek nasional sebesar 0.18 % x 176.000. = 316 0rang, yang berpredikat enterpreneur sejati memamang sangat kecil dibanding dengan negara lain, dalam keseharian kita juga tergambar ditempat-tempat umum kita lebih senang membicarakan politik dibanding ekonomi, tahukah anda yang membuat kita terpuruk saat ini adalah kita tidak memiliki jumlah pengusaha yang cukup, saya merasakan jumlah pengusaha kita yang menonjol saat ini bukanya bertambah tapi malah menurun, tunjukan orang Tarakan yang mana pengusaha kita yang menonjol saat ini, tekanan kiri kanan yang tidak proporsional membuat pengusaha tidak mampu mengembangkan diri dan usahanya karena berbagai hambatan yang tidak perlu menurut seorang kawan saya yang pengusaha tulen seperti lapangan bola yang ditumbuhi rumput apabila ada beberapa yang panjang langsung di arit. dampaknya bila pengusaha atau enterpreneur sangat kecil maka , kesempatan kerja juga akan kecil, yang bekerja sedikit artinya daya beli juga akan kecil, daya beli kecil artinya kesehatan , pendidikan dan kesejahteraan juga akan dibawah indeks standard.

untuk menciptakan pengusaha yang handal sangat sulit, sebab kita lebih senang menjadi pengurus organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan dari pada berkonsentrasi menjadi pengusaha , percayalah kita akan sejahtera bila pengusaha tumbuh seperti cendawan, tidak seperti sekarang yang tumbuh seperti cendawan adalah paguyuban, geng-geng motor dan lainya,  caranya bagaimana ? para orang muda cobalah melakukan perubahan orientasi menjadi seorang pengusaha yang handal, jangan takut gagal cobalah dengan penuh dedikasi, tanggung jawab, disiplin, ulet dan terus menerus dan pantang menyerah anda akan menyusul Aburizal Bakri menjadi orang terkaya di Asia .

Sangat menarik Tulisan Prof. MT. ZEN di Kompas, bagian akhir dari tulisan beliau menyatakan ” kita Orang Indonesia tidak lagi tahu etika, tidak lagi punya harga diri dan tidak lagi tahu malu ” setelah saya renungkan dengan kondisi lingkungan di sekeliling saya, khususnya di Tarakan memang hampir 98 % kita sudah mengidap penyakit tidak tahu etika, tidak punya harga diri dan tidak tahu malu, untung saja di berbagai TV. Dedy Mizwar mengingatkan kita untuk bangkit ” bangkit itu susah, susah melihat orang lain susah senang melihat orang lain senang, bangkit itu takut, takut korupsi , takut makan yang bukan haknya dan setrusnya…. tapi ada nggak yang merenungkanya ?, renungan untuk bangkit, karena kita sudah tahu penyakit kita dan tahu pula obat penyembuhnya, tinggal ada keinginan sembuh atau tidak.